Indonesian English

 

Komite Akreditasi Nasional (KAN) menyelenggarakan Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta Kamis (15/3/2018). Acara dihadiri kurang lebih 800 peserta yang terdiri dari laboratorium penguji, kalibrasi, lab medik, dan inspeksi wilayah Indonesia Bagian Tengah, Timur, Barat kecuali Sumatera, Banten, dan sebagian Jawa Barat. Tema dalam pertemuan kali ini adalah "Akreditasi : Memastikan Kompetensi Dalam Membangun Kepercayaan Menuju Dunia yang Lebih Aman".

Pada pertemuan ini salah satu hal yang penting yang disampaikan ke peserta pertemuan adalah telah diterbitkannya ISO/IEC 17025:2017 yang menggantikan ISO/IEC 17025:2005. "Semua laboratorium yang diakteditasi dan sertifikat akreditasi yang diterbitkan oleh badan akreditasi penandatanganan Mutual Recognition Arrangement (MRA) APLAC/ILAC, harus telah mengacu kepada ISO/IEC 17025: 2017 selambat-lambatnya 20 November 2020. Salah satu perbedaan yang tercantum dalam standar tersebut adalah mensyaratkan laboratorium untuk menyatakan ruang lingkup kegiatan yang dinyatakan memenuhi ISO/IEC 17025,"ujar  Ketua KAN yang juga Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya.

Lanjut Bambang, salah satu perbedaan yang tercantum dalam ISO/IEC 17025 : 2017 adalah mensyaratkan laboratorium untuk menyatakan ruang lingkup kegiatan yang dinyatakan memenuhi ISO/IEC 17025. Hal ini berkaitan dengan kegiatan ekspor Indonesia. “Jangan sampai hanya karena standarnya bukan yang ISO/IEC terbaru, tidak tertulis di ruang lingkup kegiatan, lalu ekspor Indonesia ditolak,” ujar Bambang.

Seperti diketahui, di perdagangan yang kompleks dan sangat kompetitif, kepercayaan diperlukan ketika produk atau jasa diperdagangkan antara negara. Akreditasi memberikan kepercayaan bahwa kegiatan penilaian kesesuaian (antara lain sertifikasi, pengujian, inspeksi, dan sebagainya) telah didasarkan pada standar yang diakui secara internasional.

“Perlu pembuktian bahwa pihak-pihak yang menerapkan standar itu menerapkannya sudah betul, melalui proses suatu penilaian, dalam terminologi umumnya kita sebut dengan conformity assessment atau disebut juga penilaian kesesuaian. Tata cara penilaian kesesuaian tersebut diantaranya adalah uji laboratorium, inspeksi, sertifikasi, audit, dan lain sebagainya,” ujar Bambang.

Untuk itu pengembangan sistem penilaian kesesuaian sangat diperlukan mengingat peran sistem ini di dalam memberikan jaminan kompetensi dan atau kesesuaian produk, jasa, sistem atau personel sesuai dengan persyaratan atau standar yang pada gilirannya akan meningkatkan keberterimaan dan jaminan kepastian kesesuaian produk/ jasa dalam transaksi perdagangan.

Peran asesor dan lembaga penilaian kesesuaian inilah menjadi penting. "Tanpa asesor dan lembaga penilaian kesesuaian, perdagangan tidak akan berjalan baik," tegas Bambang.

Selain itu, kesiapan KAN dalam mengemban tugas memfasilitasi implementasi regulasi teknis terlihat bahwa sampai 31 Januari 2018, KAN telah mengakreditasi sebanyak 1865 lembaga penilaian kesesuaian yang terdiri dari 1610 lembaga penilaian kesesuaian yang termasuk kelompok laboratorium dan 255 lembaga penilaian kesesuaian yang termasuk kelompok lembaga sertifikasi. “LPK yang termasuk kelompok laboratorium terdiri dari 117 lembaga inspeksi, 250 laboratorium kalibrasi, 1173 laboratorium uji, 57 laboratorium medik, dan 13 penyelenggara uji profiensi,” jelas Bambang.

Disamping itu, KAN juga telah mengoperasikan 25 skema akreditasi, yaitu Sistem Manajemen Mutu (SNI ISO 9001), Sistem Manajemen Lingkungan (SNI ISO 14001), Sertifikasi Produk (Tanda SNI), Sertifikasi Personel, Ecolabel (KAN Guide 801), Sistem Manajemen Keamanan Pangan (SNI ISO 22000), Pangan Organik (KAN Guide 901), Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Verifikasi Legalitas Kayu, Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SNI ISO 27001), Lembaga Sertifikasi Hazzard Analytical Critical Control Point, Sistem Manajemen Mutu Alat Kesehatan (SNI ISO 13485), Gas Rumah Kaca, Sistem Manajemen Energi (SNI ISO 50001), Sistem Manajemen Rantai Pasok (SNI ISO 28000), Usaha Pariwisata, Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SNI ISO 37001), Jaminan Produk Halal, Sertifikasi Bio-Safety, Laboratorium Penguji, Laboratorium Kalibrasi, Laboratorium Medik, Lembaga Inspeksi, Penyelenggara Uji Profisiensi, dan Produsen Bahan Acuan.

Terkait pengakuan secara regional dan internasional, Bambang menerangkan, KAN telah memperoleh pengakuan melalui Mutual Recognition Arrangement (MRA) di forum Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC) untuk 5 skema akreditasi yaitu laboratorium penguji, laboratorium kalibrasi, lembaga inspeksi, laboratorium medik dan penyelenggara uji profisiensi dan forum International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC) untuk 4 skema akreditasi laboratorium penguji, laboratorium kalibrasi, lembaga inspeksi dan laboratorium medik.

Adapun di bidang sertifikasi, Komite Akreditasi Nasional telah memperoleh pengakuan melalui Multi Lateral Recognition Arrangement (MLA) di forum Pacific Accreditation Cooperation (PAC) untuk 7 skema akreditasi yaitu sistem manajemen mutu (SNI ISO 9001), sistem manajemen lingkungan (SNI ISO 14001), sistem manajemen keamanan pangan (SNI ISO 22000), sertifikasi produk, sertifikasi personel, sistem manajemen keamanan informasi (SNI ISO 27001) dan sistem manajemen energi (SNI ISO 50001) dan forum International Accreditation Forum (IAF) untuk 4 skema akreditasi yaitu sistem manajemen mutu (SNI ISO 9001), sistem manajemen lingkungan (SNI ISO 14001), sistem manajemen keamanan pangan (SNI ISO 22000) dan sertifikasi produk.

Dalam pertemuan tersebut Sekjen KAN yang juga selaku Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN, Kukuh S. Ahmad dan Plt. Direktur Akreditasi Laboratorium dan Lembaga Inspeksi KAN yang juga sebagai Kepala Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN, Donny Purnomo menyampaikan perkembangan terkini terkait akreditasi. Perkembangan terkini tersebut diantaranya adalah revisi ISO/IEC 17011:2004 menjadi ISO/IEC 17011:2017; masa transisi penerapan ISO/IEC 17011:2017; ketentuan ILAC dan APLAC (baru dan revisi); perubahan organisasi APLAC dan PAC menjadi APAC; penggunaan simbol akreditasi KAN; serta penggunaan simbol tanda gabungan ILAC MRA.

Dengan adanya perubahan dan perkembangan tersebut, Bambang pun berharap seluruh laboratorium yang telah diakreditasi KAN dan yang akan mengajukan akreditasi dapat memenuhi persyaratan ISO/IEC 17025 : 2017 serta dapat menyesuaikan perkembangan yang sudah ditetapkan.

Melalui pertemuan ini juga diharapkan dapat menyatukan kembali komitmen mengenai pentingnya peranan laboratorium dan lembaga inspeksi yang diakreditasi oleh KAN dalam memperkuat infrastruktur standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia dalam menghadapi era pasar bebas. (dnw/nda)

 

Berita

KAN Jalin Kerjasama dengan ESMA: Ekspor Produk Halal ke Uni Emirat Arab Semakin Mudah

Saat ini, perdagangan produk pangan Indonesia ke pasar Uni Emirat Arab (UAE) masih terkendala karena adanya persyaratan yang mengharuskan bahwa sertifikat halal yang diterbitkan harus diperoleh dari Lembaga Sertifikasi yang terakreditasi oleh badan akreditasi dan diakui oleh Emirates Authority for Standardization and Metrology/ESMA. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi maka produk Indonesia yang diekspor ke pasar Uni Emirat Arab seperti biskuit, mi instan, produk olahan daging, permen dan jelly, dan flavour and food ingredientsakan terhambat.

Read more ...
Launching Skema Akreditasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU)

Kewajiban haji dan keterbatasan kuota haji menyebabkan banyak masyarakat yang kemudian melakukan ibadah umroh untuk mengunjungi tanah suci Makkah Al Mukaromah.  Di lain sisi, karena jumlah Jemaah ibadah umrah yang besar dan meningkat setiap tahunnya, saat ini banyak pihak yang tertarik untuk menyelenggarakan ibadah umrah. 

Read more ...
Peringatan Hari Akreditasi Dunia 2018: Peran Akreditasi dalam menciptakan kehidupan yang aman

Dengan tema “Bagaimana Akreditasi Bisa Menjadikan Dunia Yang Aman”, WAD menyuarakan harapan akan terwujudnya segala aspek kehidupan manusia berlangsung aman seperti tempat bekerja, penggunaan produk, transportasi, dan sebagainya. Secara statistik, harapan terkadang masih jauh dari kenyataan. Diperlukan perhatian dari pihak yang berkepentingan baik dari pemerintah, regulator, pengusaha untuk membantu mewujudkan harapan tersebut. 

Read more ...
PAC Memperkuat Implementasi Akreditasi Lembaga Sertifikasi Person Berdasarkan ISO/IEC 17024

Sertifikasi person memainkan peran yang sangat vital dalam berbagai sektor industri, baik industri manufaktur maupun industri jasa. Guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu, Komite Akreditasi Nasional (KAN) telah mengoperasikan skema akreditasi untuk lembaga sertifikasi person. Dalam upaya untuk menembus akses tenaga kerja yang bukan hanya untuk kebutuhan pasar domestik namun juga untuk kebutuhan pasar tenaga kerja global, KAN telah berhasil meraih meraih Multilateral Recognition Arrangement (MLA) di forum Pacific Accreditation Cooperation (PAC) sejak dua tahun yang lalu. Dalam sidang APLAC/PAC Joint Annual Meetings yang diselenggarakan di Kyoto Jepang pada 1 - 9 Juni 2018 telah dibahas beberapa item terkait dengan akreditasi lembaga sertifikasi person. Salah satu yang menonjol adalah peranan lembaga sertifikasi person dalam memastikan kompetensi person.

Read more ...
Sejarah Baru Terbentuknya Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC)

 

Mulai 1 Januari 2019 dunia akreditasi lembaga penilaian kesesuaian (LPK) di kawasan Asia Pasifik akan memulai hari baru dengan telah terbentuknya Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC). APAC merupakan gabungan dua organisasi kerjasama badan akreditasi LPK di kawasan Asia Pasifik, yaitu Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC) yang menangani akreditasi laboratorium dan lembaga inspeksi dan Pacific Accreditation Cooperation (PAC) yang menangani akreditasi berbagai jenis lembaga sertifikasi. Persetujuan pembentukan organisasi baru tersebut terwujud melalui voting oleh seluruh anggota APLAC dan PAC pada APLAC/PAC Joint Annual Meetings yang dilaksanakan di Kyoto Jepang pada tanggal 1-9 Juni 2018, tepatnya di Kyoto International Convention Center, sebuah tempat bersejarah dimana dilakukan penandatanganan Kyoto Protocol pada tahun 1997.  Di antara tujuan-tujuan yang lain, tujuan utama pembentukan APAC adalah untuk mempermudah konsolidasi dan memperkuat posisi oganisasi badan akreditasi di kawasan Asia Pasifik dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis di kawasan internasional.

Dalam perjalanannya, organisasi APLAC yang penandatanganan MoU pembentukannya dilakukan di Jakarta 25 tahun yang lalu telah menghasilkan pengaturan saling pengakuan (mutual recognition arrangement / MRA) di antara badan akreditasi yang menjadi anggota untuk skema akreditasi laboratorium penguji, laboratorium kalibrasi, laboratorium medik, lembaga inspeksi, penyelenggara uji profisensi dan produsen baan acuan. Sampai Juni 2018, 39 dari 64 badan akreditasi anggota APLAC telah menandatangani APLAC MRA yang intinya adalah merealisasikan saling pengakuan hasil penilaian kesesuaian (sertifikat hasil uji, sertifikat kalibrasi, dll). Sementara itu organisasi PAC juga telah menghasilkan pengaturan saling pengakuan (multilateral recognition arrangement / MLA) untuk sertifikasi sistem manajemen, sertifikasi produk, sertifikasi person dan validasi/verifikasi gas rumah kaca. Sampai Juni 2018, 25 dari 34 badan akreditasi anggota PAC telah menandatangani PAC MLA. Seperti yang disepakati dalam APLAC MRA, PAC MLA juga memberikan kerangka saling pengakuan hasil sertifikasi di kawasan Asia Pasifik.

Read more ...
Akreditasi KAN Mendukung Penerapan Monitoring-Reporting-Verification ICAO CORSIA Bagi Operator Penerbangan di Indonesia

Akreditasi KAN Mendukung Penerapan  Monitoring-Reporting-Verification ICAO CORSIA Bagi Operator Penerbangan di Indonesia

 

Kepedulian terhadap pengurangan emisi CO2 di dunia semakin gencar, salah satunya pengurangan emisi CO2 untuk penerbangan internasional yang menjadi salah program International Civil Aviation Organization dalam Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (ICAO CORSIA) yaitu penerapan Monitoring-Reporting-Verification (MRV). MRV akan diberlakukan secara efektif mulai 1 Januari 2019 bagi operator pesawat udara yang melakukan penerbangan internasional, tak terkecuali bagi operator di Indonesia. Demi menjamin keakuratan data dan proses hasil MRV maka perlu dilakukan oleh lembaga verifikasi dan validasi yang kredibel, independen dan kompeten yang diakreditasi oleh  badan yang mempunyai saling pengakuan seperti Pasific Accreditation Cooperation (PAC) / International Accreditation Forum (IAF).

Read more ...
Proses Akreditasi (Akreditasi, Reakreditasi, Survailen) Laboratorium, Lembaga Inspeksi, dan Penyelenggara Uji Profisiensi Melalui KANMIS

Sehubungan dengan proses akreditasi melalui aplikasi program online KAN-Management Information System (KANMIS), bersama ini kami informasikan hal-hal sebagai berikut:

Read more ...
Pendaftaran Pelatihan Asesor Laboratorium Penguji

PENGUMUMAN PENDAFTARAN PELATIHAN ASESOR LABORATORIUM

ISO/IEC 17025 : 2017

KOMITE AKREDITASI NASIONAL TAHUN 2018

 

Dalam rangka pengembangan sumber daya asesor KAN yang kompeten, KAN membuka kesempatan bagi yang berminat dan berkecimpung di bidang pengujian dan standar, untuk mengikuti pelatihan asesor laboratorium penguji bidang-bidang sbb :

Read more ...
Pertemuan LPK: Sosialisasikan Perkembangan Terkini Bidang Akreditasi

Komite Akreditasi Nasional (KAN) menyelenggarakan Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta Kamis (15/3/2018). Acara dihadiri kurang lebih 800 peserta.

Read more ...
Akreditasi: Memastikan Kompetensi dan Membangun Kepercayaan

Untuk menyamakan persepsi dan informasi terbaru mengenai standardisasi dan penilaian kesesuaian, KAN mengadakan Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi di Hotel Novotel, Palembang (1/3/18)

Read more ...

Keberterimaan dan Hubungan Kerja Sama

   

Powered by Komite Akreditasi Nasional 2016 - All Rights Reserved.